Sepi , Yang Tak Kunjung Mati

images

 

Tulisan ini aku buat setelah pulang kerja , masih tersisa letih di baju kerja yang belum sempat aku ganti. Dulu, mungkin tak akan ada rasa letih seperti ini saat kamu masih ada dan selalu ada. Aku seperti kehilangan yang benar-benar kehilangan. Seperti sebuah lonceng tanpa bandulnya, sunyi tak bersuara. Dua tahun sudah, kau pergi tanpa pamit , seakan esok masih bisa kita bersenda gurau. Masih kuingat saat itu, saat aku dengar sambaran petir yang terdengar dari ufuk digital. Terdengar sendu namun membuat luluh lantah seketika. Aku berlari , tak ku hiraukan sahutan demi sahutan yang menyapa disepanjang jalan. Aku hanya tertuju pada satu garis, jalan menuju rumah mu.

Tak seperti biasa, kau menyambut dengan seribu candaan yang kau buat. Kini aku hanya melihat sosok yang aku segani , aku sayangi, aku hormati hanya terdiam tanpa kata, terbujur kaku tanpa tawa yang sebelumnya selalu tercipta, tanpa celoteh yang seperti biasa menyambut saat aku tiba. Saat itu, aku merasakan getaran yang tak kunjung menjinak. Seakan langit ingin mengubur tubuhku dengan selimut tebalnya. Raga ini terus memelukmu dengan sesekali mengguncangkan tubuhmu berharap ini lelucon sambutan seperti sediakala tercipta.

Tak seberapa memang rasa sayang ini dibanding rasa sayang Sang Pencipta yang mengabulkan doamu untuk bertemu papa  disana. Pinta demi pinta itu selalu memengkakkan telinga, berusaha mendukung  walau jiwa ini terus berkata “TUNDA” Jangan terjadi, aku masih ingin berlama dengan detik manis ini. Aku belum siap berdiri tanpa rangkulan hangat, tanpa jabatan semangat yang selama ini kau berikan saat tubuh kecil ini terbakar emosi, saat aku hampir jatuh , saat aku mulai berkata “Menyerah” .

Dia lah Tuhan Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Maka tidak ada rasa sayang siapapun yang bisa melebihi-Nya. Tapi, disisi lain, Dia terbukti Maha Kuat, dengan Zat-Nya mampu membuatmu tersungkur, jatuh ke dalam luapan lahar kepedihan, merobek dinding semangat yang semakin lama membuat mu ringkih, bagai seonggok daging yang tak bertulang. Jiwa ini terasa mati sesaat, bagaimana bisa hidup tanpa semangat yang dulu sering mengisi, tapi tak bisa pula mati karena memang belum Tuhan izinkan.

Rasa ego ini terus meluap hingga lupa , ada satu hal yang harus diyakini. Bukankah untuk membuat  seseorang bahagia, tak selalu kita juga harus bahagia? Mungkin saja saat ini kau sedang tersenyum bahagia disana bersenda gurau dengan papamu yang sangat kau rindukan. Lalu , memang kau sangat marah jika aku menangis dulu, Kau tidak suka, bahkan kau pasang badan saat diri ini direndahkan .

Aku masih ingin sekali bermandi tawa bersama, kadang tak sengaja air mata menetes saat rindu masa-masa itu. Sudahlah, Aku harus tetap menjalani hidup, meski tak tahu bagaimana merayakannya ? Ketika berada di titik dimana Tuhan telah membuat kita bermandi jarak, berpeluh sepi, dan terus tenggelam dalam kekosongan. Aku yakin tak ada lagi kamu yang lain. Aku masih ingin sekali menuangkan secangkir tawa bersama ditemani cemilan canda yang tak bisa memubuat kita merasa ingin berhenti. Namun, hidup ini harus terus berjalan, bergerak melaju, dan terus menjabat diri dengan congkaknya. Akupun harus meneruskan hidup dicundangi kenyataan.

 

Dari Aku , adikmu yang kau manja.

Ahmad Syahroni

27/06/2016