Secangkir Semangat

Raga berfikir dan merenung
Mendengarkan jemari kehidupan berdengung
Entah suratan takdir yang mengaung
Biarkan diri ini menghadang dan meraung

Tersadar kisah ini berjalan mundur
Yang terjadi seperti untaian dejavu
Perhatikan jalannya butiran yang kusadur
Semua memang seperti masa lalu yang semu

Diri ini berdiri di hamparan pilu
Kulihat yang kurangkul hampir layu
Mereka menyimpan resah tertata rapi
Aku melihat , aku tahu, aku resapi

Dulu, pernah terjatuh
Lalu Datang dari ufuk, jemari menjabat
Sudah terbiasa akhirnya pilu menjauh
Tapi sayang jemari itu tak kuat malah tersayat
Jatuh lagi lalu semakin dalam mengaduh

Sosok lain datang merangkul diri
Meyakini jika kuat untuk berdiri
Lihat, aku sudah kokoh kini
Mari kita rayakan tuangkan dalam sloki

Tunggu, kau terlihat pucat
Tak usah sembunyi dalam kuat
Aku tahu ragamu tak lagi sekokoh saat merangkul
Terasa lemah hingga tak kuat memikul
Terus saja meyakini semuanya akan baik
Sampai tak dibiarkan tanganku merangkul raga itu balik.

Teruntai doa tak henti
Hanya itu yang bisa kuberi
Semoga kokoh itu kembali
Aku ingin bersama berdiri
Menyirat hangat terbitnya mentari
dari puncak yang lapang untuk berlari

Semangat,
Jadi yang terkuat
Jabat doaku erat
Yakini ragamu tak akan tersayat

🙂

Ahmad Syahroni
Jakarta, 27 Oktober 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s